Kecerdikan Abu Nawas: Menjawab Tantangan Memindahkan Istana Raja
Tasbih / Counter Wirid
Ketuk +1 saat membaca wirid berulang
Bagikan Tautan
Sampaikan kebaikan kepada keluarga & sahabat
Kecerdikan Abu Nawas: Menjawab Tantangan Memindahkan Istana Raja
"Suatu hari, Khalifah Harun Ar-Rasyid dirundung rasa jenuh dan ingin menguji kembali batas kecerdikan penasihat jenakanya, Abu Nawas. Di hadapan para menteri dan pejabat istana, Baginda mengeluarkan titah yang mustahil: "Wahai Abu Nawas! Aku bosan dengan pemandangan istana ini. Aku perintahkan engkau memindahkan seluruh bangunan istanaku ini ke puncak bukit sebelum fajar lusa menyingsing. Jika gagal, lehermu adalah taruhannya!" Para menteri yang iri tersenyum puas, yakin bahwa kali ini Abu Nawas tidak akan berkutik. Namun dengan tenang, Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata, "Daulat Tuanku, hamba siap melaksanakan perintah, asalkan Paduka menyetujui satu syarat kecil dari hamba." Baginda yang penasaran pun menyanggupinya. Hari Penentuan di Lapangan Istana Keesokan harinya, ribuan rakyat berkumpul di depan istana untuk menyaksikan peristiwa ajaib itu. Abu Nawas berdiri gagah di tengah lapangan, mengenakan jubah kerja dan membawa seutas tali tambang besar. Abu Nawas melangkah ke hadapan Baginda Raja seraya membungkuk takzim: "Ampun Tuanku yang mulia, hamba dan seluruh rakyat sudah siap memindahkan istana ini ke atas bukit sebagaimana titah Paduka." "Lalu mengapa engkau belum mulai memindahkannya?" bentak sang Khalifah heran. Abu Nawas tersenyum tenang lalu menjawab: "Hamba memohon ampun, Tuanku. Syarat hamba sangat sederhana: Hamba dan warga siap memanggul dan mengarak istana ini ke atas bukit. Namun, tugas hamba hanyalah memanggul. Hamba mohon Baginda bersama para menteri berkenan mengangkat istana ini terlebih dahulu lalu meletakkannya di atas pundak kami." Mendengar jawaban itu, Khalifah terperanjat dan terdiam seribu bahasa. Bagaimana mungkin manusia bisa mengangkat pondasi istana batu yang tertanam di bumi? Hikmah & Keadilan Sadar dirinya telah diskakmat secara logika dengan cara yang santun dan brilian, Baginda tertawa terbahak-bahak dan membatalkan hukumannya. Hikmah Pelajaran: 1. Ketegasan Logika Menghadapi Kezaliman: Permintaan yang tidak masuk akal harus dihadapi dengan argumen logis yang tenang tanpa perlu memicu pertumpahan darah. 2. Kecerdasan Diplomasi: Akal sehat dan kejernihan pikiran adalah anugerah terbesar untuk mengurai masalah yang tampak mustahil."
Daily Du'a Tawajjuhat
https://tawajjuhat.net